Rabu, 18 November 2015

Biografi Chairil Anwar



Chairil Anwar

            Chairil anwar dijuluki “Si Binatang Jalang” (dari karyanya yang berjudul Aku), adalah penyair terkemuka di Indonesia. Ia lahir di Medan, 26 Juli 1922. Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan ’45 sekaligus puisi modern Indonesia.
            Chairil Anwar dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, dimana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Puisinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensime, hingga tak jarang multi-interprestasi.
            Chairil anawar dibesarkan dalam keluarga yang kurang harmonis. Orangtuanya bercerai dan ayahnya menikah lagi. Ia merupakan anak satu-satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha, keduanya berasal dari kabupaten Lima puluh kota, Sumatra Barat. Jabatan terakhir ayahnya adalah sebagai Bupati Inderagiri, Riau. Ia masih punya pertalian keluarga dengan Sultan Sjhrir Perdana Menteri pertama Indonesia. Sebagai anak tunggal, orangtuanya selalu memanjakannya namun, Chairil cenderung bersikap keras kepala dan tidak ingin kehilangan apa pun, sedikit cerminan dari kepribadian orangtuannya.
            Chairil Anwar mulai mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Ia kemudian meneruskan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Saat usianya mencapai 18 tahun, ia tidak lagi bersekolah. Chairil mengatakan bahwa sejak usia 15 tahun, ia telah bertekad menjadi seorang seniman.
            Pada usia 19 tahun, setelah perceraian orang tuannya, Chairil bersama ibunya pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dimana ia berkenalan dengan dunia sastra. Walau telah bercerai, ayahnya tetap menafkahinya dan ibunya. Meskipun tidak daapat menyesuaikan sekolahnya, ia dapat menguasai berbagai bahasaa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman. Ia juga mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang Internasional terkenal.
            Semasa kecil di Medan, Chairil sangat dekat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan pada hidupnya. Dalam hidupnya kesedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih.
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Kerinduanmu menerima segala tiba/ tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta.
            Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, tulus di depan ibunya. Sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Beberapa puisi Chairil juga menujjukkan kecintaannya pada ibunya.
            Ia menikah dengan seorang wanita bernama Haspah. Namun pernikahan itu tidak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tidak berubah, Haspah meminta pisah. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda. Tak lama setelah itu, pukul 15:15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan Sipilis.
            Umur Chairil emang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesastraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh  di dalam mengikuti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya Evawani Chairil Anwar, seorang Notalis di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, ditahun 1999, “Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar